Coba lakukan eksperimen kecil. Buka salah satu marketplace favoritmu, cari produk perawatan tubuh atau gel pelangsing, lalu baca deskripsi produknya dari atas sampai bawah. Berapa banyak yang menyebutkan secara spesifik bahan aktif apa yang ada di dalam produknya?
Kalau pengalamanmu seperti kebanyakan konsumen Indonesia, jawabannya mengejutkan: sangat sedikit. Yang kamu temukan biasanya adalah klaim hasil (“langsung kecil,” “kulit kencang dalam 7 hari”), testimoni emosional, foto before/after, dan kata-kata samar seperti “formula herbal premium” atau “dibuat dari bahan alami pilihan.”
Tapi informasi paling penting—apa sebenarnya yang akan kamu oleskan ke kulitmu setiap hari—justru tidak ada. Dan ini bukan kebetulan. Ini adalah strategi.
Mengapa Brand Menyembunyikan Daftar Bahan?
Ada beberapa alasan mengapa brand memilih untuk tidak menampilkan daftar bahan secara transparan. Dan tidak satupun dari alasan ini menguntungkan konsumen:
1. Karena Bahan Aktifnya Tidak Ada
Alasan paling umum dan paling blak-blakan: brand tidak menampilkan bahan aktif karena produknya memang tidak mengandung bahan aktif yang worth showing. Kalau komposisi utamamu hanyalah minyak dasar, pewangi, dan pengental—kamu tentu tidak ingin konsumen mengetahuinya. Lebih mudah menyembunyikan kenyataan ini di balik kata-kata marketing yang terdengar ilmiah.
2. Karena Bahan Aktifnya Generik
Beberapa brand menggunakan bahan aktif generik (misalnya kafein atau vitamin E yang murah) dalam konsentrasi sangat rendah, lalu mengklaim hasil yang melebihi kemampuan bahan tersebut di konsentrasi rendah. Menampilkan daftar bahan lengkap berisiko karena konsumen yang melek bisa menyadari bahwa konsentrasi bahan aktifnya terlalu rendah untuk memberikan efek nyata.
3. Untuk Menghindari Perbandingan
Ketika sebuah brand tidak menampilkan bahan aktif, konsumen tidak bisa membandingkannya secara apple-to-apple dengan produk lain yang transparan. Ini menguntungkan brand yang inferior karena persaingan dipindahkan dari ranah fakta (bahan aktif) ke ranah persepsi (branding, testimoni, harga).
4. Karena Ada yang Perlu Disembunyikan
Dalam kasus terburuk, beberapa produk mengandung bahan yang seharusnya tidak ada—merkuri, hidroquinon ilegal, steroid topikal—yang memberikan “hasil cepat” tapi sangat berbahaya untuk kesehatan jangka panjang. Tanpa daftar bahan yang transparan, konsumen tidak memiliki cara untuk mengetahui ini sebelum terlambat.
Brand yang bangga dengan formulasinya akan meneriakkan bahan aktifnya dari atap gedung. Brand yang menyembunyikan daftar bahan biasanya menyembunyikan kenyataan bahwa tidak ada yang layak diteriakkan.
Apa Kata Regulasi Indonesia?
Indonesia sebenarnya memiliki regulasi yang cukup ketat soal transparansi bahan kosmetik. Menurut peraturan BPOM:
- Semua produk kosmetik yang dijual di Indonesia wajib terdaftar BPOM dan memiliki nomor registrasi (NA untuk produk nasional, NE untuk produk impor).
- Daftar bahan (ingredients list) wajib dicantumkan di kemasan mengikuti format INCI (International Nomenclature of Cosmetic Ingredients), diurutkan dari konsentrasi tertinggi ke terendah.
- Klaim produk harus bisa dibuktikan dan tidak boleh menyesatkan konsumen.
- Bahan berbahaya dilarang—termasuk merkuri, hidroquinon di atas batas aman, dan bahan tertentu lainnya.
Masalahnya, enforcement di marketplace online tidak selalu ketat. Banyak produk dijual di Shopee atau Tokopedia tanpa mencantumkan nomor BPOM di listing-nya, tanpa daftar bahan, dan dengan klaim yang tidak bisa dibuktikan. Platform marketplace baru belakangan ini mulai memperketat aturan, tapi masih banyak celah.
Ini berarti tanggung jawab akhirnya jatuh ke kamu sebagai konsumen: kamu yang harus aktif mengecek dan memverifikasi sebelum membeli.
Kata-Kata Marketing yang Tidak Berarti Apa-Apa
Salah satu taktik paling umum untuk menutupi kurangnya transparansi adalah menggunakan kata-kata yang terdengar ilmiah atau premium tapi sebenarnya tidak memberikan informasi spesifik. Berikut beberapa yang paling sering ditemui:
- “Formula herbal premium” — “Herbal” bukan jaminan efektivitas atau keamanan. Banyak bahan herbal tidak memiliki uji klinis yang membuktikan efeknya. Dan “premium” tanpa spesifikasi hanyalah kata sifat kosong.
- “Dibuat dari bahan alami pilihan” — Semua bahan di dunia ini “alami” kalau kamu tarik cukup jauh. Arsenik juga alami. Yang penting bukan apakah bahannya alami, tapi apakah bahan tersebut efektif dan aman untuk tujuan yang diklaim.
- “Terinspirasi dari kearifan lokal” — Ini menarik secara marketing tapi tidak memberikan informasi apa pun tentang apa yang sebenarnya ada di dalam produk. Kearifan lokal tidak bisa diverifikasi secara ilmiah tanpa uji klinis.
- “Mengandung bahan organik” — “Organik” hanya berarti bahwa bahan tersebut ditanam tanpa pestisida sintetis. Ini tidak ada hubungannya dengan efektivitas bahan tersebut untuk perawatan tubuh. Minyak kelapa organik tetap hanya minyak kelapa.
- “Diformulasikan secara khusus” — Oleh siapa? Di mana? Berdasarkan riset apa? Tanpa detail, frasa ini tidak bermakna.
Perhatikan polanya: semua frasa di atas terdengar positif tapi tidak menyebutkan satu pun nama bahan aktif yang spesifik. Ini adalah tanda bahwa brand tersebut lebih menginvestasikan uangnya di copywriting daripada di formulasi.
Cara Mengecek Produk di BPOM (Panduan Langkah demi Langkah)
BPOM menyediakan tools gratis yang bisa digunakan siapa saja untuk memverifikasi produk kosmetik. Berikut cara menggunakannya:
Cek BPOM dalam 3 Langkah
- Buka website
cekbpom.pom.go.iddi browser kamu (bisa dari HP). - Masukkan nomor registrasi (contoh: NA18200101365) atau nama produk di kolom pencarian.
- Periksa hasilnya: nama produk, nomor registrasi, nama perusahaan pendaftar, dan status registrasi (aktif atau tidak).
Apa yang harus kamu perhatikan:
- Produk yang sah harus memiliki nomor NA atau NE yang aktif. Kalau nomor registrasi tidak ditemukan atau statusnya tidak aktif, jangan beli produk tersebut.
- Nama produk di BPOM harus sesuai dengan nama di kemasan. Beberapa brand menggunakan nomor BPOM produk lain yang sudah tidak diproduksi.
- Nama perusahaan pendaftar harus masuk akal. Kalau brand mengklaim “Made in France” tapi perusahaan pendaftarnya adalah CV kecil di kota yang tidak dikenal, itu perlu dipertanyakan.
Perbandingan: Brand Transparan vs Brand yang Menyembunyikan
Untuk membuatnya lebih konkret, berikut perbandingan antara pendekatan brand yang transparan dan yang tidak:
| Aspek | Brand Transparan | Brand yang Menyembunyikan |
|---|---|---|
| Daftar bahan | Dicantumkan lengkap di kemasan dan listing marketplace | Tidak ada, atau hanya menyebut 1–2 bahan generik |
| Bahan aktif | Disebutkan dengan nama spesifik (Lipout, Provislim, dll) | “Bahan alami,” “formula herbal,” tanpa nama spesifik |
| BPOM | Nomor ditampilkan jelas, bisa diverifikasi | Tidak ada nomor, atau nomor yang tidak bisa diverifikasi |
| Mekanisme kerja | Menjelaskan bagaimana produk bekerja di level seluler | Hanya menunjukkan hasil (before/after) tanpa penjelasan cara kerja |
| Sertifikasi | Halal, BPOM, sertifikasi internasional ditampilkan | Tidak ada sertifikasi atau sertifikasi yang tidak bisa diverifikasi |
| Respons terhadap pertanyaan | Menjawab pertanyaan tentang bahan dengan detail | Mengalihkan ke testimoni atau menghindari pertanyaan |
Seperti Apa Brand yang Benar-Benar Transparan
Transparansi bukan sekadar mencantumkan daftar bahan di kemasan (meskipun itu syarat minimum). Brand yang benar-benar transparan melakukan lebih dari itu:
- Menyebutkan setiap bahan aktif dengan nama spesifik dan menjelaskan fungsi masing-masing. Bukan “mengandung bahan aktif premium” tapi “mengandung Lipout™ untuk fat browning dan Provislim™ untuk akselerasi metabolisme.”
- Menampilkan nomor BPOM secara prominent—di kemasan, di listing marketplace, di website. Dan mengajak konsumen untuk memverifikasinya sendiri.
- Menjelaskan mekanisme kerja—bukan hanya apa hasilnya, tapi bagaimana produk mencapai hasil tersebut. Brand yang memahami produknya bisa menjelaskan sains di baliknya.
- Menampilkan sertifikasi yang bisa diverifikasi—Halal, BPOM, sertifikasi internasional. Bukan sekadar logo yang ditempel, tapi nomor registrasi yang bisa dicek.
- Menjawab pertanyaan konsumen tentang bahan dengan terbuka. Coba kirim pesan ke customer service sebuah brand dan tanyakan bahan aktif apa yang ada di produknya. Respons yang kamu terima akan sangat revealing.
Transparansi bukan tren marketing. Transparansi adalah hak kamu sebagai konsumen—dan standar minimum yang layak kamu tuntut dari setiap brand yang meminta uangmu.
Panduan Praktis: 5 Pertanyaan Sebelum Membeli
Sebelum membeli produk perawatan tubuh apa pun, tanyakan 5 pertanyaan ini. Kalau brand tidak bisa menjawab semuanya, pertimbangkan ulang keputusanmu:
- “Apa bahan aktif utama di produk ini?” — Jawaban yang benar menyebutkan nama spesifik. “Bahan alami” atau “formula rahasia” bukan jawaban.
- “Berapa nomor BPOM-nya?” — Kalau tidak bisa memberikan nomor, produk tersebut mungkin tidak terdaftar. Jangan beli.
- “Bagaimana produk ini bekerja?” — Brand yang memahami produknya bisa menjelaskan mekanisme kerja, bukan hanya menunjukkan foto before/after.
- “Di mana saya bisa melihat daftar bahan lengkapnya?” — Kalau daftar bahan tidak ada di kemasan atau listing, itu red flag besar.
- “Apakah ada sertifikasi yang bisa saya verifikasi?” — Halal, BPOM, sertifikasi internasional—semua harus bisa diverifikasi secara mandiri.
Shapelyne: Transparansi Sebagai Standar, Bukan Fitur
Di Shapelyne, transparansi bukan strategi marketing—ini adalah prinsip dasar. Kami percaya bahwa kamu berhak tahu persis apa yang kamu oleskan ke kulitmu, dan kami tidak memiliki alasan untuk menyembunyikan apa pun.
Itulah mengapa setiap bahan aktif kami disebutkan secara spesifik dengan nama: Lipout™, Provislim™, Caffeine, Acmella Oleracea, Salmon DNA, Hyalo-Oligo®, dan Syricalm™. Bukan “bahan alami premium”—tapi tujuh bahan aktif klinis yang bisa kamu Google sendiri, riset sendiri, dan verifikasi sendiri.
Transparansi Penuh · Tidak Ada yang Disembunyikan
Shapelyne Slimming Essential Concentrate
7 bahan aktif klinis yang disebutkan dengan nama, diformulasikan di Prancis dengan standar kosmetik Eropa. Setiap bahan memiliki fungsi spesifik yang bisa kamu pelajari dan verifikasi secara mandiri.
BPOM NA18200101365 — cek sendiri di cekbpom.pom.go.id
Halal — tersertifikasi resmi
HSA Singapura CCPN2014504 — terdaftar di otoritas kesehatan Singapura
Bebas alkohol. Bebas paraben. Bebas pewangi sintetis. Bebas silikon. Cruelty-free. Aman untuk ibu hamil dan menyusui.
Kesimpulan
Transparansi bahan bukan soal tren atau preferensi—ini soal hak kamu sebagai konsumen. Kamu yang memutuskan apa yang masuk ke kulitmu, dan untuk membuat keputusan yang cerdas, kamu butuh informasi yang lengkap dan jujur.
Brand yang menyembunyikan daftar bahan biasanya melakukannya karena satu alasan: mereka tidak memiliki bahan aktif yang layak ditunjukkan. Dan brand yang bangga dengan formulasinya akan selalu menampilkannya dengan terbuka—karena bahan aktif klinis adalah investasi yang ingin diperlihatkan, bukan biaya yang perlu disembunyikan.
Yang bisa kamu lakukan mulai sekarang:
- Selalu baca daftar bahan sebelum membeli produk perawatan tubuh apa pun.
- Cek nomor BPOM di cekbpom.pom.go.id—butuh waktu kurang dari 1 menit.
- Tanyakan bahan aktif secara spesifik ke customer service brand. Kalau mereka tidak bisa menjawab, cari brand yang bisa.
- Jangan terpengaruh kata-kata samar seperti “herbal,” “organik,” atau “alami” tanpa spesifikasi.
- Pilih brand yang tidak takut dibandingkan—karena brand yang transparan tidak memiliki apa pun untuk disembunyikan.
Baca juga: